Sembuhkan Kanker, Bisakah Pakai Penyembuhan Alternatif?

 

Pengunci Hati Pasangan – Penyembuhan Alternatif sering sekali menjadi pilihan oleh beberapa orang dengan berbagai alasan. Tidak adanya perbaikan kesehatan atau mahalnya biaya pengo batan medis menjadi salah satu alasan orang beralih ke Pengo batan Alternatif.

 

Apalagi jika pasien harus menjalani beberapa kali treatment pengo batan, seperti kanker. Pengo batan pada kanker termasuk pengo batan yang membutuhkan waktu dan biaya yang cukup banyak.

 

Lalu bagaimana pendapat para dokter tentang pengo batan alternatif untuk kanker? Dokter Umum Siti Nurjanah menjelaskan, pengo batan alternatif sebenarnya masih menggunakan alat-alat, dan bahan-bahan yang baik dan aman, sehingga tidak memiliki resiko terhadap timbulnya penyakit lain.

 

“Namun pengo batan alternatif yang sudah menggunakan media lain seperti tusuk jarum yang mengeluarkan darah, terutama jika tidak memperhatikan kesterilan alat, inilah yang merugikan si pasien itu sendiri,” katanya kepada Okezone.

 

Menurutnya, pengo batan alternatif dibagi menjadi dua bagian. Pertama, terapi alternatif komplementer sebagai terapi tambahan di luar terapi utama atau medis.

 

Terapi ini dilakukan sebagai terapi pendukung untuk mengontrol gejala, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi terhadap penatalaksanaan pasien secara keseluruhan. “Dengan tetap menjalankan terapi medis dan alternatif yang sesuai kaidah kedokteran,” jelas dokter Siti Nurjannah.

 

Dia menambahkan, mengikuti pengo batan alternatif mampu meningkatkan distress psikososial serta memburuknya kualitas hidup. Pasalnya, penderita kanker harus mendapatkan perawatan khusus yang sesuai.

 

Pengo batan alternatif kedua, dan tidak disarankan yaitu sebagai pengganti dari terapi utama atau medis, adalah sebagai pengo batan utama dari kanker. “Itu yang bisa membuat prognosis penyakit menjadi lebih buruk,” jelas dia.

 

Dokter Siti menyebut, dampak terapi alternatif bisa menjadi masalah tersendiri di kalangan dokter yang menangani terapi onkologi, karena adanya keterlambatan penanganan dapat menyebabkan penurunan bahkan hilangnya kemungkinan tercapainya kesembuhan, sehingga menyebabkan kematian.